Rabu, 19 Oktober 2011

Bali Kini: Bukan Pura dan Upacara Belaka

Selama ini, kita selalu mengasosiasikan Bali dengan tari-tarian, atau musik tradisional gamelan, atau dengan pura-pura yang megah dan menguarkan aura mistis. Hal itu bukan masalah sebenarnya karena, walaupun tidak selalu demikian, identitas Bali memang lekat dengan hal-hal tersebut. Namun, Bali adalah sebuah gunung potensi yang tidak habis-habisnya untuk digali, baik dari segi budaya, sosial, maupun ekonomi.

Bagi para pekerja pariwisata di Bali, seperti saya, potensi ekonomi pariwisata Bali juga terdapat di perairannya.

Oleh karena itu saya dan beberapa sahabat sepakat untuk mendirikan sebuah perusahaan kecil-kecilan yang bergerak di bidang tur dan travel. Kami memusatkan konsentrasi kami kepada tur di sekitar perairan Bali walaupun kami, tentu saja, dapat menangani pesanan para wisatawan, baik nusantara maupun asing, yang ingin menjelajah kekayaan budaya dan alam pulau Bali sebagaimana yang dikenal oleh publik selama ini.

Kami yakin, bila potensi pariwisata bahari ini dikelola dengan baik, bukan tidakmungkin devisa pariwisata akan mengalir lebih deras lagi, yang pada gilirannya akan berpengaruh pada pajak pendapatan dan pariwisata (asalkan tidak dikorupsi oleh Gayus-gayus yang lain hahaha -- sori, intermezzo).Selain itu, kami juga membayangkan potensi pariwisata bahari yang dikelola dengan baik akan membukakan lapangan kerja yang lebih luas bagi para tenaga kerja muda.

Tentu saja, banyak tantangan yang harus dihadapi oleh perusahaan-perusahaan start-up seperti kami. Dari proses identifikasi yang kami lakukan, kami dapat memperkirakan beberapa tantangan tersebut. Pertama, persaingan dengan kompetitor yang telah lebih dulu aktif di bidang ini. Tur dan travel adalah bidang yang sudah sangat maju di Bali karena telah dikelola sejak tahun 1970-an, ketika Bali mulai dikenal luas oleh wisatawan nusantara maupun mancanegara. Sangat banyak pemain yang berpengalaman di bidang ini.

Kedua, permodalan. Jujur saja, memulai sebuah usaha dengan modal minim adalah tantangan yang mengasyikkan sekaligus memusingkan. Modal yang kecil akan menguji kejelian kita dalam menangkap setiap peluang sales, yang tentu saja akan memberikan tambahan modal bagi modal yang telah ada.

Ketiga, promosi. Banyak wisatawan mancanegara yang datang ke Bali karena mereka tergoda untuk mengetahui lebih lanjut tentang pulau ini setelah membaca brosur, artikel, atau posting di internet.

Bahan-bahan bacaan tersebut tersedia dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu penguasaan bahasa Inggris (dan bahasa-bahasa asing lain) sangat diperlukan dalam promosi. Mengapa kita begitu mementingkan wisatawan dari luar negeri? Jujur saja: mereka memiliki uang yang lebih banyak untuk dibelanjakan di Bali. Namun, tentu saja sebuah perusahaan start-up tidak boleh melupakan pasar wisata negeri sendiri. Keseimbangan antara promosi dalam dan luar negeri adalah perlu.

Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, tidak ada kunci sukses yang lain selain berani menghadapi kompetitor, bahkan yang paling berpengalaman sekalipun. Namun, keberanian semata-mata tidak akan berhasil jika tidak diimbangi dengan kejelian membaca SWOT. Penguasaan atas bahasa dan budaya asing juga harus senantiasa ditingkatkan, dan tentu saja promosi yang sehat melalui media internet -- seperti yang tengah kami lakukan dengan Balidevasha.com. Apabila dimungkinkan, permohonan pinjaman kredit kepada bank yang bonafide atau mencari pemodal yang antusias juga dapat dipertimbangkan.

Rumus-rumus yang saya jabarkan di atas, konon, sudah terbukti berhasil. Namun kami tidak akan percaya bila kami belum mengalaminya sendiri. :) Terus maju, wiraswastawan muda Indonesia!

Related Posts

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...